Sunday, September 6, 2015

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ
Saudara muslimku calon penghuni sorga, kali ini kita akan membahas tentang Pengertian dan Contoh Taat dalam Kehidupan Sehari-hari. Semoga artikel ini bermanfaat, aamiin.

Pengertian dan Contoh Taat dalam Kehidupan Sehari-hari

1. Pengertian dan Contoh Taat

Kata taat berasal dari bahasa Arab Ta’at. Kata ini mempunyai makna mengikuti atau menuruti. Secara istilah taat berarti mengikuti dan menuruti harapan atau perintah dari luar diri kita. Dengan kata lain, taat artinya tunduk, patuh saat kita memperoleh perintah atau larangan untuk dihindari.


Contoh perilaku taat dapat ditemukan dalam uraian berikut. Rizki duduk di kelas VII SMP Bina Utama. Sebagai seorang muslim, Rizki menunaikan salat tepat waktu, menunaikan puasa Ramadan, dan puasa sunah. Tidak lupa setiap hari Jumat Rizki mempunyai agenda rutin yaitu bersedekah. Rizki melakukannya dengan ikhlas tanpa menginginkan pujian dari teman atau orang tuanya.

Sikap yang ditunjukkan oleh Rizki termasuk kategori perilaku taat. Rizki menaati perintah Allah Swt. dan rasul-Nya. Perilaku Rizki hendaknya diteladani dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana cara menerapkan perilaku taat dalam keseharian? Simaklah uraian berikut untuk mengetahuinya.


2. Berperilaku Taat dalam Keseharian

Memiliki sifat taat akan memberikan akibat baik untuk pemiliknya. Jika setiap orang telah memahami maksud sikap ini, dia akan menerapkan- nya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, dapat dipastikan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara akan berjalan dengan harmonis.

Dalam Islam terdapat tiga tingkatan objek ketaatan. Ketiganya adalah Allah Swt., Rasulullah saw., dan ulil amri. Hal ini tertera dalam Al-Qur’an Surah an-Nisa’  ayat 59.
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah rasul (Muhammad saw), dan ulil amri di antara kamu . . . (Q.S. an-Nis-a’ [4]: 59)

Dalam ayat di atas dengan jelas Allah Swt. memberitahukan tiga objek ketaatan manusia. Islam menuntut untuk ketaatan kepada ketiganya dengan model yang berbeda. Penerapan ketaatan dalam kehidupan dapat dilakukan dengan mengacu pada kandungan ayat di atas.

a. Ketaatan kepada Allah Swt.

Ketaatan kepada Allah menempati posisi ketaatan tertinggi. Sebagai seorang muslim, tidak ada satu pun di dunia ini yang dapat mengalahkan ketaatan kita kepada Allah Swt. Saat Allah Swt. menginginkan sesuatu dari kita, kita wajib menaati-Nya. Inilah makna keislaman kita kepada Allah Swt. Menunaikan perintah Allah Swt. dan menjauhi larangan-Nya adalah cara menunjukkan ketaatan kepada Allah Swt. Misalnya, menunaikan salat, membayar zakat, dan menunaikan ibadah haji.

b. Ketaatan kepada Nabi Muhammad saw.

Ketaatan kepada rasul mempunyai posisi sejajar dengan ketaatan kepada Allah Swt. Mengapa demikian? Hal ini sebab apa pun yang disampaikan, dilakukan, serta diinginkan Rasulullah saw. adalah wahyu dari Allah Swt. Pada saat yang sama, Allah Swt. senantiasa menjaga kehidupan rasul berikut segala gerak-gerik yang dilakukan beliau. Sedikit saja beliau bergeser dari kebenaran, Allah Swt. segera mengingatkannya. Dengan adanya penjagaan Allah Swt. ini Rasulullah menjadi seorang yang maksum atau terjaga dari kesalahan.

Dengan kedudukannya yang sedemikian istimewa, Allah Swt. menempatkan Rasulullah saw. dalam posisi yang terhormat dalam ketaatan seorang muslim. Allah menyatakan bahwa menaati Rasulullah sama dengan menaati Allah Swt. Dengan demikian, ketaatan kepada Rasulullah saw. adalah prioritas yang sama dengan ketaatan kepada Allah Swt. Meskipun begitu, kita tidak boleh menganggap Rasulullah saw. sejajar dengan kedudukan Allah Swt. sebagai Tuhan. Menyamakan Rasulullah saw. dengan Allah Swt. sebagai Tuhan adalah tindakan kemusyrikan sebab Rasulullah hanyalah manusia biasa yang diberi wahyu oleh Allah Swt. Menaati perintah Allah Swt. dan menjauhi larangan-Nya berarti menaati rasul- Nya. Hal ini sebab perintah rasul berarti perintah Allah Swt.

c. Ketaatan kepada Ulil Amri

Ketaatan tingkat ketiga adalah taat kepada ulil amri. Sebagian ulama menafsirkan kata ulil amri di sini terbatas pada pemerintah di negara kita berada. Oleh sebab itu, kita juga wajib taat pada berbagai peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Semua peraturan itu disusun untuk menjaga keteraturan dalam kehidupan bermasyarakat. Sebagian ulama yang lain meluaskan makna ulil amri ini. Mereka tidak membatasi makna ulil amri sebatas pemerintah saja, tetapi segala hal atau ketentuan atau sistem yang ada di sekitar dan terkait dengan kita. Oleh sebab itu, taat kepada ulil amri dapat diartikan sebagai taat pada orang tua, taat pada ketentuan masyarakat, taat pada norma yang berlaku hingga taat pada janji kita kepada teman.

Ketaatan kepada ulil amri ini ada syarat-syarat tertentu. Syarat tertentu itu adalah tidak boleh bertentangan dengan ketentuan Allah Swt. dan rasul-Nya. Ketika bertentangan dengan ketentuan Allah Swt. dan rasul-Nya, perintah ulil amri wajib kita tinggalkan. Kita juga dianjurkan untuk bersikap taat kepada guru. Ketaatan kepada guru ditunjukkan dengan mematuhi perintahnya, meng- hormati, dan bersikap peduli. Kita patuhi perintah dan tugas yang guru berikan kepada kita, baik itu tugas sekolah atau tugas luar. Kita juga wajib menghormatinya, misalnya dengan berkata dan bersikap sopan kepadanya. Sikap peduli kepada guru dapat ditunjukkan dengan selalu mengingat jasa baiknya, mendoakannya, dan berbuat sesuatu yang menyenangkan hatinya.

Sumber : Pendidikan Agama Islam Kelas VII, Husni Thoyar



No comments:

Post a Comment