Monday, December 8, 2014

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ
Saudara muslimku calon penghuni sorga, kali ini kita akan membahas tentang Asmaul Husna : Al Wakiil (Maha Mewakili/Penolong). Semoga artikel ini bermanfaat, aamiin.

Asmaul Husna : Al Wakiil (Maha Mewakili/Penolong)


Alwakiil asal katanya wakala yang berarti menyerahkan dan mempercayakan suatu urusan kepada orang lain (mewakilkan). Dalam konteks asmaul husna, Allah al-Wakiil memiliki makna bahwa kita selaku makhluk harus menyandarkan segala urusan kita kepada Allah SWT.

Dalam kehidupan ini, kita pasti pernah mengalami kegagalan, misalnya kegagalan dalam ujian, kegagalan dalam bekerja, atau kegagalan dalam usaha. Dari pengalaman kegagalan ini, akan lahir dua tipe manusia. Pertama tipe orang yang optimis (tawakkal), yaitu orang yang memasrahkan dan meyakini bahwa segala urusan dalam kehidupan ini ada yang mengaturnya. Tipe manusia kedua adalah tipe orang yang berputus asa, orang-orang seperti ini tidak menyadari bahwa dibalik sesuatu yang dialaminya, dilihatnya, didengarnya, dirasakannya memiliki hikmah yang harus diambil pelajarannya untuk menjalani masa depan.

Hidup manusia itu ibarat berjalan mengendarai mobil. Ada dua kaca yang sangat penting diperhatikan, yaitu kaca depan dan kaca spion merupakan. Kaca depan pasti lebih besar dari kaca spion. Hal ini menandakan bahwa peluang kehidupan di depan lebih besar. Kita hanya perlu melihat ke belakang melalui kaca spion yang kecil untuk memastikan bahwa pergerakan kita tidak membahayakan orang lain. Coba bayangkan bagaimana jadinya jika saat mengendarai mobil, kita lebih banyak memandangi kaca spion. Seperti itulah perumpamaan bagi orang-orang yang terlalu banyak meratapi masa lalu. Dia akan mencelakakan dan menggangu orang-orang di sekitarnya.

Ada pepatah yang mengatakan, “Manusia hanya bisa berencana, tapi Tuhanlah yang menentukan”. Pepatah ini sangat tepat untuk menggambarkan bahwa Allah adalah al-Wakiil, yang selalu membantu untuk menyelesaikan masalah-masalah kehidupan kita. Inilah luar biasanya Allah, Dia mempercayai kita untuk menjadi wakil-Nya dalam mengelola alam semesta, namun jika kita menemukan masalah dalam tugas tersebut, kita diperintahkan untuk meminta bantuan-Nya.

Allah Swt. berfirman dalam QS Ali Imran/3 : 173 yang artinya:  
“(yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", Maka Perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi penolong Kami dan Allah adalah Sebaik-baik Pelindung".

Selain itu, Allah Swt berfirman dalam QS Annisa/4 : 132 yang artinya:  
 “dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi. cukuplah Allah sebagai Pemelihara”.

Mengimani bahwa Allah memiliki sifat al-wakiil akan mendorong kita untuk selalu dekat kepada-Nya. Kita akan melakukan sesuatu tanpa terlalu banyak memikirkan hasilnya, karena tugas kita dalam hidup ini sebenarnya adalah bekerja, berkreasi, dan beraktifitas. Adapun masalah hasilnya kita serahkan kepada Allah Swt.

Asma Allah al-Wakiil melahirkan konsep tawakkal. Tawakkal dalam bahasa Indonesia dapat berarti optimis, yakin bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik untuk kita. Dari asma Allah al-Wakiil ini juga dapat ditemukan keindahan ajaran Islam tentang takdir. Dalam ajaran Islam dijelaskan bahwa takdir semua manusia telah diatur oleh Allah. Rizkinya, usianya, jodohnya dan lain-lain. Kita tidak pernah tahu apakah akan menjadi orang kaya atau miskin, berumur panjang atau rumur pendek, dapat perawan/perjaka atau kakek/nenek. Karena kita tidak mengetahui takdir kita, maka kita wajib untuk berikhtiar. Namun ingat, jika gagal, Allah Swt. adalah al-Wakiil. Dia selalu akan membantu kita menyelesaikan masalah kita.

Menghadaplah kepadaNya, mengadulah kepadaNya kapanpun kita membutuhkanNya. Kita dapat menemui dan berbincang dengan Allah di ruangan khusus yang disebut tempat sujud. Masjid menjadi tempat kita berkonsultasi dengan Allah berkaitan dengan laporan perkembangan tugas kita sebagai wakil-Nya. Kapan itu dapat kita lakukan? Jika kita ingin secara langsung diterima di ruangan-Nya, maka gunakanlah waktu dimana manusia yang lain sedang asyik istirahat yakni pada saat tengah malam.






No comments:

Post a Comment