Friday, September 5, 2014

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ
Saudara muslimku calon penghuni sorga, kali ini kita akan membahas tentang Kisah Nabi Ibrahim as. Mencari Kebenaran Tuhan. Semoga artikel ini bermanfaat, aamiin.

Kisah Nabi Ibrahim as. Mencari Kebenaran Tuhan

Kisah Nabi Ibrahim as. Mencari Tuhan

Nabi Ibrahim as. adalah putra dari Azar. Nabi Ibrahim as. dilahirkan di wilayah Kerajaan Babylonia yang saat itu diperintah oleh Raja bernama Namrud. Namrud adalah raja yang sangat sombong yang mengaku dirinya Tuhan. Raja Namrud juga dikenal sangat kejam kepada siapa saja yang berani menentang kekuasaannya.

Suatu saat Namrud bermimpi. Dalam mimpinya itu, ia melihat seorang anak laki- laki yang memasuki kamarnya kemudian mengambil mahkotanya. Keesokan harinya, ia pun memanggil tukang ramal yang sangat terkenal untuk mengartikan mimpinya tersebut. Tukang ramal mengartikan bahwa anak yang hadir dalam mimpinya tersebut kelak suatu saat akan meruntuhkan kerajaannya. Mendengar hal tersebut, Namrud menjadi murka. Dia memerintahkan kepada seluruh tentara kerajaan agar membunuh setiap bayi laki-laki yang dilahirkan.

Azar yang istrinya saat itu sedang mengandung begitu khawatir akan keselamatan bayi yang dikandung istrinya tersebut. Ia khawatir bahwa bayi yang ada dalam perut istrinya adalah seorang bayi laki-laki yang selama ini ia dambakan. Untuk menyelamatkan calon bayinya tersebut, diam-diam Azar mengajak istrinya bersembunyi di dalam sebuah gua yang jauh dari keramaian. Di gua itulah kemudian bayi tersbut dilahirkan dan diberi nama Ibrahim. Agar tidak diketahui oleh khalayak ramai, Azar dan istrinya meninggalkan Ibrahim yang masih bayi itu di dalam gua dan sesekali datang untuk melihat keadaannya. Hal itu terus dilakukukan hingga Ibrahim tumbuh menjadi anak kecil yang sehat dan kuat atas izin Allah Swt. Bagaimana Ibrahim dapat hidup di dalam gua, padahal tidak ada makanan dan minuman yang diberikan kepadanya? Jawabannya karena Allah Swt. menganugerahkan Ibrahim untuk menghisap jari tangannya yang dari situ keluarlah air susu yang sangat baik. Itulah mukjizat pertama yang diberikan oleh Allah kepada Nabi Ibrahim as.

Lama hidup di dalam gua tentu membuat Ibrahim kecil sangat terbatas pengetahuannya tentang alam sekitar. Maka, di saat ada kesempatan untuk keluar dari gua, Ibrahim pun melakukannya. Betapa terkejutnya ia, ternyata alam di luar gua begitu luas dan indah. Di dalam ketakjubannya itu, Ibrahim berpikir bahwa alam yang sangat luas dan indah berikut isinya termasuk manusia, pasti ada yang menciptakannya. Maka, Nabi Ibrahim pun lalu berjalan untuk mencari Tuhan. Ia mengamati lingkungan sekelilingnya. Namun, ia tidak menemukan sesuatu yang membuatnya kagum dan merasa dapat dijadikan Tuhannya.

Kisah Nabi Ibrahim as. Mencari Kebenaran TuhanDi siang hari, Ibrahim melihat begitu cerahnya matahari menyinari bumi. Ia berpikir, mungkin matahari adalah tuhan yang ia cari. Tetapi ketika senja datang dan matahari tenggelam di ufuk, gugurlah keyakinannya akan matahari sebagai tuhan. Sampai akhirnya, malam pun datang menjelang. Bintang di langit bekerlap-kerlip dengan indahnya. Sinarnya membuat suasana malam menjadi lebih indah dan cerah. “Apakah ini Tuhan yang aku cari?” Kata Ibrahim di dalam hati dengan gembira. Ditatapnya bintang-bintang itu dengan penuh rasa bangga. Tapi ternyata, ketika malam beranjak pagi, bintang-bintang itu pun menghilang satu per satu. Dengan pandangan kecewa, Nabi Ibrahim melihat satu per satu bintang-bintang itu menghilang dari langit. “Aku tidak menyukai Tuhan yang bisa menghilang dan tenggelam karena waktu,” gumamnya dengan penuh perasaan kecewa.

Nabi Ibrahim pun kemudian mencoba mencari Tuhan yang lain. Memasuki malam berikutnya, bulan pun muncul dan bersinar memancarkan cahayanya yang terang. Ia pun menduga, “Inikah Tuhan yang aku cari?” Maka, ketika pagi datang menjelang, bulan pun hilang tanpa alasan seperti yang terjadi terhadap matahari dan bintang, Ibrahim pun memastikan bahwa bukanlah matahari, bintang, maupun bulan yang menjadi Tuhan untuk disembah, tetapi pasti ada satu kekuatan Yang Maha perkasa dan Maha agung yang menggerakkan dan menghidupkan semua yang ada, termasuk matahari, bintang, dan bulan. Ibrahim pun menyimpulkan bahwa Tuhan tidak lain adalah Allah Swt.

Saat keyakinan Nabi Ibrahim as. kepada Allah Swt. betul-betul merasuki jiwanya, mulailah ia mengajak orang-orang di sekitarnya untuk meninggalkan penyembahan terhadap berhala yang tak memiliki kekuatan apa pun, tidak pula memberi manfaat apa-apa. Orang pertama yang ia ajak untuk hanya menyembah Allah Swt. adalah Azar, ayahnya sendiri yang berprofesi sebagai pembuat patung untuk disembah. Mendengar ajakan Ibrahim, Azar marah karena apa yang dilakukannya sudah dilakukan oleh nenek moyangnya sejak dahulu. Azar meminta Ibrahim untuk tidak menghina dan melecehkan berhala yang seharusnya disembah.

Kepada orang-orang di sekelilingnya Ibrahim berseru, “Wahai saudaraku! Patung-patung itu hanyalah buatan manusia yang tidak dapat bergerak dan tidak memberi manfaat sedikitpun. Mengapa kalian sembah dengan memohon kepadanya?” Demikian ajakan Ibrahim kepada umatnya. Akan tetapi, kaumnya tidak mau mendengarkan, apalagi mengikuti ajakan Nabi Ibrahim a.s., bahkan mereka mencemooh dan memaki Nabi Ibrahim.

Menyadari bahwa ajakannya untuk menyembah hanya kepada Allah Swt. tidak mendapatkan respon yang baik dari umatnya, Nabi Ibrahim as. lalu mengatur cara bagaimana melakukan dakwah secara cerdas dan lebih efektif. Maka, saat seluruh penduduk negeri termasuk Raja Namrud pergi untuk berburu, Nabi Ibrahim a.s. lalu masuk ke dalam kuil penyembahan berhala kemudian menghancurkan semua berhala yang ada dengan sebuah kapak besar yang telah disiapkannya. Semua berhala hancur kecuali berhala yang paling besar yang sengaja ia sisakan. Pada berhala besar itu, Nabi Ibrahim a.s.  menggantungkan kapak di leher berhala terbesar tersebut.

Sekembalinya dari perburuan, Raja Namrud dan semua penduduk negeri  terkejut luar biasa. Mereka dengan sangat marah mencari tahu siapa yang telah berani melakukan perbuatan tersebut. Mengetahui bahwa Ibrahimlah satu-satunya lelaki yang tidak ikut serta dalam perburuan, Raja Namrud memerintahkan tentaranya untuk memanggil dan menangkap Ibrahim untuk dihadapkan kepadanya. Di hadapan Raja Namrud, Ibrahim berdiri dengan tegak dan penuh percaya diri.

“Hai Ibrahim, apakah engkau yang menghancurkan berhala-berhala itu?” tanya Raja Namrud. “Tidak, saya tidak melakukannya,” jawab Ibrahim as. “Jangan mengelak, wahai Ibrahim, bukankah kamu satu-satunya orang yang berada di negeri saat yang lainnya pergi berburu?” sergah Raja Namrud. “Sekali lagi tidak! Bukan aku yang melakukannya, melainkan berhala besar itu yang melakukannya,” jawab Ibrahim as. dengan tenang.

Mendengar pernyataan Nabi Ibrahim as, Raja Namrud marah seraya berkata, “Mana mungkin berhala yang tidak dapat bergerak engkau tuduh menghancurkan berhala lainnya?” Mendengar pertanyaan Raja Namrud, Ibrahim as. tersenyum kemudian berkata, “Sekarang anda tahu dan anda yang mengatakannya sendiri bahwa berhala itu tidak dapat bergerak dan memberikan melakukan apa-apa. Lalu, mengapa ia engkau sembah?”

Mendengar jawaban Ibrahim as. yang tidak disangka-sangka, Namrud terhenyak dan Namrud sebetulnya menyadari hal tersebut. Namun, karena kebodohan dan kesombongannya, Namrud tetap saja tidak memedulikan jawaban dari Ibrahim as. Ia kemudian memerintahkan kepada tentaranya untuk membakar Ibrahim hidup-hidup sebagai hukuman atas perlakuannya kepada berhala-berhala yang mereka sembah.
Kisah Nabi Ibrahim as. Mencari Kebenaran Tuhan

Setelah semua persiapan untuk membakar Ibrahim as. telah lengkap, dilemparkanlah Nabi Ibrahim ke dalam api yang berkobar dan panas. Apa yang terjadi selanjutnya? Allah Swt. menunjukkan kemahakuasaan-Nya dengan meminta api agar menjadi dingin untuk menyelamatkan Ibrahim as. Maka, api pun dingin sehingga Ibrahim as. tidak terluka sedikit pun karenanya. Itulah mu’jizat terbesar yang diterima oleh Nabi Ibrahim, yaitu tidak terluka saat dibakar dengan api membara yang sangat panas.





1 comment: